Sunday, December 11, 2011

Logo IPL Mencerminkan Pengelolanya

FIFA mulai mengakui Indonesian Premier League (IPL) sebagai kompetisi resmi PSSI. Begitulah sepenggal isi berita di sebuah media online dengan judul "Indonesian Premier League Mulai Diakui FIFA". Setelah menggusur Liga Super Indonesia dan menggantinya dengan Indonesia Premier League (IPL), PSSI kebingungan menentukan format liga dibawah kepemimpinan Johar Arifin.

Anggota PSSI sendiri berselisih paham mengenai format liga. Mulai dari 1 Wilayah atau 2 Wilayah, akan diikuti 36 Klub atau 24 KLub atau 18 klub saja. Pembahasan ini tak kunjung selesai hingga berlarut-larut. Tindakan PSSI yang tak jelas dan membingungkan inilah yang akhirnya membuat klub-klub besar beralih ikut Liga Super Indonesia di bawah naungan PT. Liga Indonesia.

Kebingunan ini yang membuat saya terkejut ketika melihat LOGO IPL yang digunakan. Karena logonya mirip "tanda tanya". Entah ini logo resmi atau bukan, karena ketika saya ingin memastikan di situs resmi pssi -> pssi-football.com tidak bisa dibuka. Logo ini saya dapatkan dari media online. Supaya benar-benar mirip "tanda tanya" logonya jadi saya edit (digambar ke2), ya seperti pengelolanya (PSSI) yang penuh tanda tanya untuk menggelar sebuah liga saja tidak selesai-selesai pembahasannya.





Tapi akhirnya IPL-pun berjalan dan FIFA hanya mengakui IPL sebagai liga resmi di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan perpampangnya klasemen sementara di situs resmi FIFA http://www.fifa.com/associations/association=idn/nationalleague/standings.html.

tulisan ini telah dipublish di kompasiana

Saturday, December 10, 2011

Kampanye 100% Cinta Indonesia hanya Omong Kosong

Sejak 2009, Kampanye 100% Cinta Indonesia diluncurkan pemerintah melalui Kementerian Perdagangan, Kementerian BUMN & Kementrerian Kominfo [1]. Pada awalnya kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mencintai produk-produk dalam negeri. Tapi kampanye itu hanya Omong Kosong, karena kita disuruh pemerintah untuk mencintai produk dalam negeri disisi lain pemerintah dengan rajin mengimpor bahan pangan dari luar.

Beras, Gula, BBM hingga Ikan di import oleh pemerintah dengan alasan produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat. Jika alasannya begitu, mengapa uang yang digunakan untuk mengimpor bahan pangan tersebut digunakan untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Contoh saja untuk meningkatkan produksi beras, cobalah menerapkan teknologi pangan, sehingga masa panen bisa dipercepat. Memang hidup di era serba instan membuat siapapun bisa terlena. Mau makan tinggal disedu pakai air panas, mau jadi wakil rakyat tinggal sogok kanan kiri, mau kebutuhan pangan terpenuhi ya Impor.

Jika pemerintah terus terlena mengimpor tanpa mencari solusi bagaimana meningkatkan produksi dalam negeri. Maka sumber daya alam Indonesia akan terus dicuri pihak asing yang sangat tergiur akan sumber daya alam Indonesia. Indonesia banyak kog orang-orang yang pintar, banyak orang-orang cerdas. Untuk menggali sumber daya alam Indonesia untuk kebutuhan rakyat Indonesia sendiri. Tapi tanpa difasilitasi pemerintah sama saja bohong. Mereka lebih memilih bekerja di luar negeri karena lebih dihargai oleh pemerintah negeri tetangga dibandingkan pemerintah Indonesia sendiri.

Jadi, pemerintah hanya buang-buang anggaran saja untuk kampanye yang pemerintah sendiri tidak melakukanya untuk berusaha mencintai produk-produk dalam negeri.

Tulisan ini telah dipublish di kompasiana.

Saturday, June 25, 2011

Pesan Tiket Kereta Api via Telepon

PT. Kereta Api (KAI) sudah lama meluncurkan layanan pembelian tiket melalui call center KAI. Tetapi baru bulan April 2011 saya membeli tiket kereta api. Kali ini saya akan berbagi mengenai cara pembelian tiket. Pertengahan bulan Mei 2011, terdapat Hari Kejepit Nasional (Harpitnas) yang kemudian menjadi cuti bersama. Pada masa seperti itu, tiket kereta api sudah ludes biasanya.

Wednesday, June 22, 2011

Jakarta Yang Semakin Tua

Jakarta sudah tidak muda lagi, usia 484 tahun bagi sebuah kota bisa dibilang sangat tua. Jakarta yang semakin tua justru semakin banyak permasalahan yang belum terselesaikan. Masalah selalu saja muncul, entah kapan masalah itu selesai. Kalau urusan macet sudah pasti jagonya, banjir, polusi, kemiskinan, kriminalitas, kurangnya lahan resapan, dan lain lain dan sebagainya dan masih banyak lagi.

Saturday, June 18, 2011

Menanti Kehancuran Indonesia

Pasca reformasi, membuat Indonesia tidak semakin baik
mengubur dalam-dalam era diktator
dan menjalani zaman koruptor
tindak korup atau suap menjadi hal wajar
begitu pula koruptor yang mendadak sakit
dan lari ke luar negeri